Showing posts with label New Paradigm. Show all posts
Showing posts with label New Paradigm. Show all posts

Mind Setting In The Paradoxical World 4

Bagian ke 4 ini merupakan hal yang paling penting setelah memahami persoalan implikasi perubahan ekonomi gelombang ke tiga berikut tuntutan dan respon yang hendaknya dimiliki oleh organisasi maupun individu, yakni bagaimana menjadi individu yang victor bukan victim.

Perbedaan dari kedua hal itu sangat tipis bahkan sering mengelabui. Tak banyak orang yang mamp melihat dengan jelas bagaimana caranya keluar dari libatan victor dan victim itu. Gambar dbawah ini mengisyaratkan dengan jelas kedua sisi itu yang berlawanan tetapi sering tersembunyi dibalik satu dengan lainnya.


Dapatkah anda menemukan keduanya?
Kalau belum, mungkin anda perlu banyak melatih cara pandang, melihat dengan persepsi atau sudut pandang yang berbeda.


Materi kali ini banyak menyoroti membangun pribadi baru dengan mulai mengadopsinilai-nilai baru era informasi, menjadi pribadi yang tidak hanya terhindar dari menjadi korban perubahan, melainkan lebih jauh yakni menjadi Traiblazer, agen perubahan itu sendiri.

Ingat, tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri!

Mind Setting n The Paradoxical World 3

Bagian yang ketiga ini membahas mengenai Peran dan Pengaruh Teknologi Informasi sertta Bagaimana Mengadopsi Nilai-Nilai Baru Era Informasi.


Selamat mengikuti!

Mind Setting in The Paradoxical World 2

Bagian kedua ini meliputi bahasan-bahasan mengenai Implikasi perubahan ekonomi gelombang ketiga serta tuntutan terhadap organisasi maupun individu dan respons terhadap perubahan besar itu.

Bagian yang tidak kalah pentingnya adalah merangsang sikap mau membangun diri menjadi mansia yang dapat diandalkan (being Trusworhy), berlatih bersinergi, menjadi pemberdaya dan agen perubahan.



Materi pelatihan disajikan secara indoor/classroom dan outdoor untuk mempraktekkan nilai-nilai dan pola pikir baru tersebut dalam simulasi-simulasi yang dirancang akan mampu menantang dan mengetuk kesadaran untuk berani berubah, belajar meninggalkan paradigma lama serta tidak takut meninggalkan zona kenyamanan

Dengan demikian diharapkan pelatihan ini mampu memberi warna baru dalam cara pandang dan sikap perilaku yang lebih proporsional terhadap perubahan-perubahan yang akan dilakukan oleh institusi di lingkungan PU dalam rangka reformasi birokrasi.

Mind Setting in The Paradoxical World

Gelombang perubahan ekonomi dunia yang telah memasuki Era Informasi telah merubah secara drastis tata kehidupan dan pola pikir manusia masa kini. Sayangnya tidak semua orang mampu melihatnya dan kalaupun tahu tidak mencoba merangkulnya. Orang cenderung bertahan pada status quo, zona kenyamanan era industrial yang telah berurat akar dalam cara pandang sikap dan perilaku, meskipun disisi lain mereka sudah harus menggunakan berbagai perangkat kehidupan era informasi (handphone, komputer, internet dll). Sayangnya pula, berbagai institusi dan organisasi masih pula menggunakan pradigma era industrial dalam pengelolaan maupun tatanannya. Akibatnya jelas terlihat kecanggungan dan “kagok” , satu kaki telah terdesak masuk ke era Informasi sedang kaki yang lain beserta hati dan isi kepala masih tertinggal di era industrial.

Kecanggungan itu semakin menjadi-jadi karena perubahan paradigma yang dahsyat itu membawa pada kehidupan yang paradoksikal yang sebelumnya dianggap tidak masuk akal, semisal berkompetisi sekaligus berkolaborasi, memimpin sekaligus melayani, penyiar harus menjadi pendengar agar bisa menyiarkan, harga murah tapi mutu tinggi, produksi masal margin kecil versus volume kecil margin besar dan sebagainya. Ketika “yang tak masuk akal” itu tidak kunjung dapat kita terima, hasilnya keterkejutan dan kekagokan yang berkelanjutan dan semakin dalam.

Kecanggungan ini telah membuat bangsa Indonesia sering tertinggal dan terkaget-kaget dengan berbagai kejadia dan perubahan tanpa mampu menyiapkan diri menghadapainya. Semua itu berpangkal pada pola pikir yang masih terbenam jauh di era industrial yang kini terbukti telah mendegradasi harkat dan martabat manusia dan kemanusiaan.

Lahirnya era Informasi membawa implikasi yang sangat besar, termasuk semakin santunnya bisnis dan pola organisasi akibat transparansi dan kecepatan yang tidak terhindarkan dari tuntutan masyarakat konsumen. Hal ini pun melanda pelayanan publik dan instansi pemerintah yang kian hari semakin terdesak oleh tuntutan cepat, fleksibel, sederhana dan adaptif. Kekakuan gerak organisasi pada hakekatnya terletak pada kelumpuhan paradigma para pmpinan dan karyawannya. Karena itu tuntutan terhadap reformasi  birokrasi sudah tidak dapat ditunda lebih lama lagi.

Dalam kaitan itulah pentingnya pelatihan Mindsetting ini dilakukan agar bukan hanya demi menghindarkan para karyawan menjadi korban perubahan melainkan sedapat mungkin merangsang mereka menjadi agen perubahan dan motor penggerak reformasi birokrasi di lingkungan kerja mereka.

Mengacu pada pemikiran itulah pelatihan “Minsetting in the Paradoxical World” disusun secara sistematis meliputi:

  1. Paradox in the 21st century
  2. Implikasi Ekonomi gelombang Ketiga
  3. Tuntutan dan Respons Organisasi maupun Individu terhadap Ekonomi Gelombang Ketiga
  4. Peran dan Pengaruh Teknologi Informasi
  5. Mengadopsi NilaiNilai Baru Era Informasi
  6. Being Trustworthy (Menjadi Manusia Handal/Dapat Dipercaya)
  7. Building Synergy (Kerjasama menghasilkan sinergi)
  8. Being a Powerhouse Person (Menjadi Pemberdaya bagi orang lain dan organisasi)
  9. Being a Traiblazer (Menjadi Pionir dan Agen Perubahan)
Mengingat besarnya ukuran memory waktu upload serta kedalaman materi maka presenteasinya disajikan dalam 4 posting artikel. Yang pertama ini meliputi bahasan mengenai Paradox in The 21st Century.

Selamat menikmati dan jangan lupa merubah mind set anda bila perlu.

Mind Setting, GNU dan Creative Commons

Baru-baru ini seorang teman dari sebuah lembaga konsultan minta pendapat saya soal mind setting. Pasalnya lembaganya mendapat surat bernada teguran dari lembaga konsultan lain karena menggunakan kata "Mind Setting" dalam proposal pelatihan mind setting (ini sesuai yang diminta oleh klien, dan memenangkan 'proyek' pelatihan itu) dengan alasan Mind Setting adalah merek mereka yang sudah dipatentkan.
Setelah melihat dan mengamati berkas-berkas dari kantor patent yang disertakan dalam surat teguran itu, saya tersenyum kecut, bukan hanya karena yang namanya merek itu sekadar sebuah bentuk tulisan Mind Setting dengan font huruf yang umum dipakai (arial, georgia dsb) serta warna yang hanya hitam putih, tetapi lebih kepada pola pikir yang ironis dengan apa yang mereka patenkan dan ajarkan dalam pelatihan Mind setting mereka.

Ini baru soal istilah dalam judul pelatihan yang menggunakan kata mind setting, belum lagi soal isi pelatihan yang bisa sangat bervariasi dan tak akan persis sama!

Mari kita renungkan filosofi yang melatarbelakangi soal property right atau hak kekayaan intelektual. Kenapa itu ada dan bagaimana perkembangannya.

Milik Umum Kok Dipatenkan?

Patent adalah upaya untuk melindungi jerih payah seseorang dalam menciptakan sesuatu yang baru, yang belum ada sebelumnya dan unik, sehingga tidak boleh sembarangan dipakai secara umum tanpa seijin pemiliknya. Jadi, "barang" itu adalah milik pribadi bukan milik umum.

Nah, dalam kasus mind setting tadi yang hanya berupa tulisan Mind Setting tanpa sesuatu yang istimewa (bentuk, warna dsb) kejadiannya  menjadi terbalik. Kata mind setting adalah kosa kata yang ada dalam bahasa Inggris, yang umum dipakai orang yang berbahasa Inggris untuk menggambarkan pengertian yang berkisar tentang penyusunan (kembali) pola pikir. Karena itu adalah bahasa, dan bahasa itu milik umum, maka tidak ada seorangpun yang boleh melarang orang lain menggunakannya, dan tidak perlu juga minta ijin. Negara Inggris yang punya bahasa saja tidak menuntut kok. 

Artinya, tidak boleh ada orang lain yang mengambilnya dari milik umum menjadi milik pribadinya. Dalam kasus diatas justru lembaga konsultan tersebut yang mempatentkan kata mind setting itu telah "MENCURI" milik umum dan seharusnyalah publik semestinya bisa menuntut "pencurian" itu. Weh ini kok instansi yang berwenang soal paten di Indonesia justru membantu dan mengesahkan pengambilan milik publik itu.

Ibaratnya seperti mengambil rambu lalu lintas di jalan raya dan memasangnya di di gang samping rumah dan setiap orang yang mau lewat harus minta ijin dulu ( tentunya dengan membayar upeti). 

GNU dan Creative Commons

Jaman sudah jauh berubah dan terjadi pergeseran pola pikir yang luar biasa dari era industri ke era informasi. Dan hak patent adalah produk era industri yang marak akibat terjadi penemuan dan penciptaan baru menyusul penemuan mesin uap oleh James Watt yang kemudian melahirkan era industri itu.  Sadar atau tidak, patent disisi lain adalah pengekangan terhadap kemungkinan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan hidup manusia. Patent telah mengebiri laju perkembangan dunia karena hanya orang yang mampu yang dapat mengaksesnya lalu menyembunyikan "ramuan" ajaib itu untuk keuntungan sendiri. Padahal tidak satupun hasil ciptaan manusia yang sempurna, yang tidak memerlukan perbaikan dan penyempurnaan. 

Dalam banyak kasus, telah puluhan tahun orang menyesalkan kenapa banyak resep diumpetin begitu lama dan diposisikan sebagai obat mujarab penyakit tertentu padahal belakangan baru diketahui telah menimbulkan efek samping berbahaya dan berkepanjangan hanya setelah masa berlakunya paten itu habis. Padahal, zat yang menimbulkan efek samping itu bisa dengan mudah dinetralisir oleh orang lain sejak lama.

Di era informasi ini, pola pikir patent model lama (era idustrial) itu telah ditinggalkan. Bahkan masyarakat di negeri-negeri maju ( AS pelopornya) telah lama menggunakan konsep yang biasa disebut dengan GNU project yang membolehkan banyak hasil ciptaan (bahkan termasuk software terbaru) untuk bisa di "oprek" orang lain tanpa harus minta ijin penciptanya (dan gratis pula) demi memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi penemuan dan perbaikan yang lebih maju.

Coba simak kutipan berikut ini:
The licenses for most software and other practical works are designed to take away your freedom to share and change the works. By contrast, the GNU General Public License is intended to guarantee your freedom to share and change all versions of a program--to make sure it remains free software for all its users. We, the Free Software Foundation, use the GNU General Public License for most of our software; it applies also to any other work released this way by its authors. You can apply it to your programs, too.

Proyek GNU, diucapkan "guh-noo", diluncurkan pada tahun 1984 untuk mengembangkan sebuah sistem operasi seperti UNIX yang terdiri dari perangkat lunak bebas: Sistem GNU. 

Proyek GNU berhubungan erat dengan filosofi tentang perangkat lunak bebas, yang merupakan pusat untuk proyek lain yang berinduk darinya, seperti Ubuntu

Nama Ubuntu diambil dari nama sebuah konsep ideologi di Afrika Selatan. “Ubuntu” berasal dari bahasa kuno Afrika, yang berarti “rasa perikemanusian terhadap sesama manusia”. Ubuntu juga bisa berarti “aku adalah aku karena keberadaan kita semua”. Tujuan dari distribusi Linux Ubuntu adalah membawa semangat yang terkandung di dalam Ubuntu ke dalam dunia perangkat lunak.

Proyek Ubuntu berkomitmen penuh kepada prinsip pengembangan perangkat lunak open source; masyarakat dianjurkan untuk menggunakan perangkat lunak open source, memperbaikinya, dan menyebarkannya. Ini berarti bahwa Ubuntu adalah dan akan selalu bebas biaya.

Namun, ini lebih dari sekedar tersedia dengan biaya nol. Filosofi dari perangkat lunak bebas adalah masyarakat harus bebas untuk menggunakan perangkat lunak untuk semua tujuan "yang berguna secara sosial". "Perangkat lunak bebas" tidak hanya berarti bahwa Anda tidak harus membayar untuk mendapatkannya, perangkat lunak bebas juga berarti bahwa Anda dapat menggunakan perangkat lunak sesuai yang Anda inginkan: kode untuk membangun perangkat lunak tersedia untuk di-download, diubah, diperbaki dan digunakan oleh siapapun. Jadi selain dari kenyataaan bahwa perangkat lunak bebas sering tersedia tanpa biaya, kebebasan ini juga memberikan keuntungan teknis: ketika program tersebut dikembangkan, hasil kerja keras orang lain dapat digunakan dalam program Anda. Dengan perangkat lunak tidak bebas, hal ini tidak dapat terjadi dan ketika Anda ingin mengembangkan program, Anda harus memulainya dari awal. Untuk alasan ini pengembangan perangkat lunak bebas dapat terjadi dengan cepat, efisien dan menyenangkan!

Anda dapat menemukan informasi lebih lanjut mengenai filosofi dari perangkat lunak bebas disini.

Nah lho, itu perangkat lunak lho yang biasanya berharga sangat mahal saja dikasih bebas dan boleh dioprek! Jadi, jangan heran jika saat ini anda menggunakan Google Account, anda juga akan mendapatkan puluhan fasilitas gratis yg dulu kita harus membelinya jika ingin memakainya. Ilmu pengetahuan memang selayaknya bebas, demi kemaslahatan dan kemajuan manusia.

Lalu ada lagi ini!. Pernah dengar tentang Creative Commons?

Creative Commons adalah bentuk baru lisensi menyusul berkembangnya konsep GNU, yang memungkinkan orang saling berkolaborasi menciptakan sesuatu secara sinergis menghasilkan jauh lebih besar daripada dikekepin sendiri) tanpa harus dibatasi dengan hak cipta tradisional era industrial itu.

Contohnya: Seorang penyair Inggris bisa mengolaborasi syair indah yang dibuatnya ke dalam aransemen musik instrumen yang dibuat oleh kelompok pemusik di Argentina yang tak bisa berbahasa Inggris, lalu terciptalah lagu berbahasa Inggris yang menyebar secara global. Kedua pihak akan meraih untung yang jauh lebih besar daripada harus bekerja sendiri-sendiri. 

Share, Remix, Reuse — Legally

Creative Commons provides free tools that let authors, scientists, artists, and educators easily mark their creative work with the freedoms they want it to carry. You can use CC to change your copyright terms from "All Rights Reserved" to "Some Rights Reserved."

We're a nonprofit organization. Everything we do — including the software we create — is free.

The Spectrum of Rights

Creative Commons defines the spectrum of possibilities between full copyright — all rights reserved — and the public domain — no rights reserved

Our licenses help you keep your copyright while inviting certain uses of your work —  a “some rights reserved” copyright

Seperti biasa, untuk urusan yang begini Indonesia selalu tertinggal sehingga sampai saat ini belum mendaftar sebagai peserta CC - Creative Commons. Lihat daftar CC International disini
Meski begitu secara individu saya dan blog ini telah terdaftar sebagai peserta Creative Commons License dengan kode  The content of the materials owned by Hillon I. Goa are licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.Silakan lihat di Home blog ini . Oleh karena itu anda boleh secara bebas mendownload materi-materi saya tanpa perlu ijin dan gratis pula. Lho, apa tidak rugi dan takut disaingi?

Weh, ilmu itu tak akan habis dan saya sadar hasil kerja saya tidak sempurna meski saya telah bekerja sebaik mungkin. Disamping itu jika ada yang menyempurnakannya akan menjadi lebih baik bagi orang banyak. Seperti sebuah lagu, akan semakin merdu dan enak didengar sesuai selera jamannya.

Dan kalau yang menyaingi hanya mengcopy saja tanpa tambahan kreatifitas didalamnya tentu akan seperti penyanyi yang mencoba menyanyikan kembali lagu orang lain. Pasti Sumbang dan tak semerdu aslinya.

Jadi, kalau sampai sekarang kita masih menggunakan mind set soal hak cipta ala tradisional itu jangan heran kalau sekarang mana ada anak muda yang suka dengerin lagu kroncong, nonton wayang kulit, main ketoprak dan menyanyi lagu Rasa Sayange (Lucunya, begitu orang lain menyanyikannya kita ribut kebakaran jenggot, dilain pihak kita mengaku wayang dan dangdut itu milik kita. Coba deh cek dari mana asalnya..sementara pemilik aslinya tidak kebakaran jenggot padahal mereka punya jenggot yang tebal dan lebih panjang)

Kembali ke soal surat bernada teguran dari merek Mind Setting diatas, tentu anda sudah bisa menilai sendiri. 'Ari gini' masih punya mind set seperti itu?

Mungkin ada baiknya mereka melakukan mind Setting lagi soal mind setting sebelum mengajarkan Mind Setting kepada orang lain. 


Pensiun = Ganti Ban

Pensiun!
Kata ini bagi banyak karyawan atau pegawai (tentu saja bagi yang sudah STW atau oversek*) membuat hati agak tergetar, bahkan tidak sedikit yang merasa merinding alias kecut. Berbeda dengan jamannya kakeknya bapak saya dulu, pensiun adalah saat menikmati hari tua sambil santai memeluk kekasihnya (nenek-nenek pastinya) atau bisa jalan-jalan keliling negeri atau dunia tanpa perlu diikat oleh waktu dan perintah bos lagi. 

Namun, saat ini bagi banyak pegawai itu, datangnya pensiun ibarat tibanya saat tidak akan menjadi manusia yang berguna lagi, sementara uang pensiun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian hari kian membubung. Alih-alih pesiar ke luar negeri, sekadar menjaga standar hidup yang biasanya saja sudah tidak memadai! Akhirnya lebih memilih pesiar ke pulau kapuk!

Disisi lain, kalau toh yang pensiun itu cukup tinggi kedudukannya dan mendapat "tunjangan" pensiun yang cukup untuk hidup, persoalannyha bergeser kepada "Post Power Syndrom" dimana yang bersangkutan tidak tahu harus berbuat apa untuk mengisi "sisa" hidupnya karena yang dia tahu hanya menjadi seperti saat masih "aktif" menjadi pegawai. Pernahkah anda mendengar cerita seorang Kolonel yang pensiun?

Begini ceritanya:
(seperti memulai kisah horor di tv saja ..hehe)

Pada hari-hari pertama masa ia menjalani pensiun, Pak mantan Kolonel itu merasa canggung berada di rumahnya saat dimana biasanya ia berada di kantor tempat ia berkarya. Ia tidak tahu harus melakukan apa di rumahnya sendiri sementara anggota keluarga yang lain bergiat dengan kesibukan rutin mereka masing-masing. Kalaupun ada yang dikerjakannya pun ia merasa bukan hal yang penting dan cukup berharga baginya. Singkat cerita, esoknya pagi-pagi sekali ia sudah mengenakan pakaian seragamnya, dan berangkat ke bekas kantornya. Disana ia menyambangi eks rekan-rekan kerjanya ngobrol ngalor-ngidul. Saat waktu kantor usai, pak Kolonel juga bersiap untuk pulang. Esoknya ia lakukan hal yang sama, persis seperti saat dulu masih "aktif", begitu seterusnya hingga beberapa hari....

Para rekannya yang masih menjadi pegawai, yang pada awalnya menyambutnya dengan ramah akhirnya merasa terganggu akan kehadiran si "mantan" ini dan berupaya menghindar darinya. Karena tak ada yang bisa dajak ngobrol tak produktif itu, Pak mantan itu kemudian mencari sasaran lainnya. Ia pindah ke kantin kantor dan terlihat diterima dengan ramah disana. Tetapi setelah beberapa hari, para pegawai yang sebenarnya hanya ke sana untuk seperlunya saja (juga pengurus kantin yang melihat sudah tak ada lagi tip mengalir ke tangan mereka) merasa terganggu karena sering tertahan untuk diajak ngobrol oleh mantan pejabat ini. Merekapun segera berupaya menghindar bila akan berpapasan dengannya.


Hari-hari berkutnya terlihat pak mantan ini sudah pindah ke tempat parkir berkawan akrab dengan para sopir ......, dan dia akan pulang ke rumah saat waktu kerja usai, setiap petang bahkan sering kemalaman seperti orang yang lembur atau banyak pekerjaan..........

Silakan teruskan sendiri ceritanya!

Kata pensiun dan kemudian menjadi pola pikir serta konsep hidup sebagai "saatnya berhenti dari siksaan keharusan bekerja" sebenarnya adalah warisan era industrial (pada saatnya nanti saya akan menulis soal era ini vs era informasi) dimana manusia (pegawai) adalah alat produksi atau bagian dari sistem organisasi semata yang harus bekerja sesuai standar-standar tertentu dan baku, dan rutin, dan lama, dan begitu terus, dan tak lain tak bukan adalah makluk pencari makan (bukan mencari hidup) yang BP7 alias Bapak Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan!

Karena itu, setelah pensiun banyak dari mereka yang hanya menjadi robot berdaging, yang kini tak terpakai lagi. Program yang tertanam erat di otak si robot harus dicabut dan diganti dengan program baru yang berbeda agar organ fisik si robot bisa tetap bermanfaat bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi orang lain! Nah, lho!

Nah, berangkat dari ilustrasi diatas anda tentu bisa memahami seperti apa program pelatihan untuk persiapan pensiun yang disini diberi makna "Persiapan Membangun Karir Kedua"!

Bukankah dalam bahasa Inggris pensiun disebut retire yang makna sebenarnya adalah mengganti (re) ban (tire) agar anda bisa melaju lebih kencang dan lebih jauh dalam mengarungi hidup! 

Dan untuk masa 30 tahun berikutnya! Bukan hanya untuk 5 atau 6 tahun sebelum Tuhan melihat anda sudah tidak berguna bagi orang lain sehingga beliau memutuskan lebih baik anda diminta menemaniNYA!

Catatan:
* STW = Setengah Tuwo (bhs Jawa) artinya Setengah baya, agak tua
* Oversek =Over Seket (plesetan bhs Jawa) artinya diatas lima puluh (tahun)

Workload Analysis: a New Approach.

Dalam banyak kesempatan sering kita mendengar keluhan dari rekan kerja soal beban kerja yang tidak merata, yang menggerutu merasa beban kerjanya lebih berat dibandingkan dengan rekan lainnya. Dia merasa sering kehabisan waktu menghadapi pekerjaan yang menumpuk hingga harus pulang lebih larut atau membawa pulang pekerjan rumah, sementara orang lain dilihatnya bisa pulang sesuai jam kerja dengan santai. Tidak heran jika terlontar joke di kalangan para pekerja atau karyawan "Little-little to me, salary not up-up!"



Sesungguhnya pandangan terhadap beban kerja yang tidak merata itu adalah warisan konsep era industrial dimana pekerja diberi imbalan berdasarkan deskripsi pekerjaan atau job description dan diberi bobot dan pangkat kemudian nilai imbalan tertentu. Dalam konsep itu pekerja adalah bagian dari mata rantai proses untuk menghasilkan produk (termasuk jasa) yang standar. Karena itu imbalan yang diberikanpun berdasarkan standar upah yang berlaku ama untuk sekelompok orang dengan pangkat yang sama. 

Era industrial dengan sistem dan prosedur operasi yang standar untuk menghasilkan produk massal yang standar memang memungkinkan hal seperti itu dilakukan dan perhitungan beban kerjapun hanyalah fungsi  dari jumlah Tenaga Kerja (fisik) dan waktu standar penyelesaian suatu tugas (task) - membentuk kapasitas -  versus volume tugas yang harus diselesaikan dalam periode waktu tertentu. 

Pada kenyataannya, wilayah-wilayah kerja yang memiliki variasi pekerjaan tidak menentu (tidak standar) sering menimbulkan keluhan diatas. Dan di era informasi dimana produk standar sudah sulit diterima konsumen karena persaingan yang semakin ketat pekerja sudah tak cukup hanya bekerja berpatokan job desription. Pekerjaan yang dihadapi sering harus melampaui standar kerja demi mengejar kepuasan pelanggan, atau bisa diterima oleh kastamer.

Nah, urusan beban kerja bukanlah fungsi perhitungan ala tradisional itu lagi melainkan harus dilihat dengan cara pandang yang berbeda sesuai paradigma era informasi. Dalam slides pelatihan ini dipaparkan dengan jelas paradigma volume base versus customer value base.

Belum lagi pelibatan masalah beban kerja mental (Mental Workload) yang semakin menekan di era yang penuh persaingan ini. Bukankah semakin banyak orang yang menderita stress di dunia yang sebenarnya lebih maju dibandingkan jaman era indstrial? Yang jelas sudah tidak ada pegawai yang mempunyai 'luxury' tidur siang dengan teratur seperti jaman ayah-kakek kita meski memiliki mobil dan rumah yang lebih bagus serta makan yang lebih enak!

Dengan pola yang baru itu tidak akan terdengar keluhan "Little-little to me, salary not up-up!"

Selamat mempelajarinya!
Salam Sobat